Inilah yang Harus Dilakukan bagi Orang yang Belum Mampu Berjihad (voa-islam.com)


بِــــــــسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيـــــــمِ

جهادُ مَنْ لَمْ يَحْضُر الجهادَ

Jihadnya Orang Yang Tidak Hadir Dalam Jihad

Oleh: Syaikh Izzudin Ar Roshofi

Diterjemahkan: Ibnu Qolami Al-Muhajir

Seri ke 2  dari buku: Dengan Darah Mereka Berpetuah

الحمدُ لله ربّ العالمين، والصّلاة والسّلام على نبيّنا محمّدٍ وعلى آله وصحبه أجمعين، ثمّ أمّا بعد

 

Kebanyakan kaum muslimin (1 dan 1,5 Milyar) sangat menginginkan seandainya ada kesempatan dibukakan bagi mereka agar dapat berperan walau hanya sedikit demi membela saudara saudara mereka di Iraq, Afghanistan atau Palestina.

Dan banyak dari kaum mukmin sangat menginginkan seandainya dia mampu datang ke Iraq untuk benar-benar ikut serta dalam jihad bahkan banyak dari mereka yang sangat ingin merelakan diri dalam amaliyah istisyhadiyah demi membela agama Allah.

Jika kita memperhatikan dan memahami sebab-sebab waqi` (realita) karena ketidakmampuan para ikhwah itu (para pembela jihad) dalam rangka ikut serta beramal dalam peperangan melawan thagut maka kita –termasuk bagian dari menghasung kemampuan dan idad dengan segala kekuatan yang kita mampu– membuat metode yang dimampui oleh saudara-saudara kita (pembela jihad), khususnya para pemuda diantara mereka yang dengannya ia bisa ikut serta dalam peperangan sedangkan mereka di rumah-rumahnya selama tidak mampu pergi dengan jasad / raga mereka dan kami berusaha menjadikan metode itu mudah dan jelas atas izin Allah semampu mungkin.

Saudara kami para pembela jihad yang tidak hadir dalam jihad:

Sesungguhnya saudara-saudara kalian di Iraq, Afghanistan dan di front- front lainnya menghadapi musuh bukan seperti musuh lainnya, ia adalah musuh yang berlipat ganda (koalisi) yang dibentuk dengan pencampuran dari setiap kejahatan dan benih-benih kekotoran serta perasan tipu muslihat dan makar.

Sesungguhnya musuh kalian hari ini adalah setan dengan setiap bala tentaranya. Oleh karena itu dan agar kita jelas dalam mengenai sasaran, maka wajib untuk kita perhatikan siapa yang kita perangi dan front perang mana yang kita arungi dan pada perang apa yang wajib untuk kita tentukan pertama kali dari para musuh, maka kita katakan dengan ringkas bahwa para musuh adalah :

  1. Setan dan jiwa yang memerintahkan pada kejelekan
  2. Yahudi yang diwakili  oleh negara yahudi bernama israel dan setiap pembelanya
  3. Para salibis yang dipimpin oleh amerika dan sekutu-sekutunya
  4. Rofidhoh majusi dan anjing-anjing mereka
  5. Orang-orang murtad, orang-orang yang mudahanah (bertoleransi) dan para antek-anteknya dari bangsa kita sendiri.

Dan penjelasan nasehat -nasehat dan saran-saran bagi orang yang tidak hadir dalam jihad ini adalah sebagai berikut :

  1. Idad Imani (persiapan spiritial iman) bagi orang yang tidak hadir dalam jihad.
  2. Idad Maddi (persiapan materi) bagi orang yang tidak hadir dalam jihad (Militer – Badan/Fisik – Kesehatan – Elektronik)
  3. Dakwah bagi orang yang tidak hadir dalam jihad kepada Tauhid dan Jihad ditengah – tengah idad itu sendiri.
  4. Berperan serta bagi orang yang tidak hadir dalam jihad dalam membantu langkah – langkah awal untuk jihad yang bersifat (bermakna) perang.

I`dad Imani Bagi Yang Tidak Hadir Dalam Jihad

Sudah menjadi keharusan untuk dapat mengalahkan nafsu dan setan hingga terealisasi kemenangan melawan musuh kafir, yang kami maksud adalah setiap hal yang mengajak kepada kesesatan, maksiat dan akhlak buruk.

Musuh ini ada yang bersifat internal dan bersifat external, oleh karena itu musuh seperti ini adalah yang paling berbahaya dan paling banyak bahayanya karena ia bekerja seperti bakteri yang ganas. Karena ia tidak membunuhmu langsung pada awalnya akan tetapi ia menghancurkan raga dan anggota badanmu sehingga menjadikanmu seperti tanaman mati yang tidak bergerak dan tidak bermanfaat.

Oleh karena itu berhati-hati dan waspada dari musuh semacam ini adalah wajib, karena tidak ada yang lebih besar dan lebih kuat yang dapat menghancurkanmu dari padanya. Maka kita menyiapkan diri mengahadapi musuh ini adalah langkah awal dalam berperang.

Jika jiwamu mampu mengalahkannya maka setelahnya akan lebih mudah bagimu dan jika engkau tidak mampu maka aku mengira engkau tidak akan mampu ikut serta dalam perang yang engkau niatkan bergabung didalamnya.

Oleh karena itu pertama kali kewajibanmu jika engkau berazzam membela saudara-saudaramu hendaklah engkau letakkan kakimu diatas jalan jihad dan dalam waktu yang sama engkau kalahkan setanmu.

Dan pertama kali yang seharusnya engkau selesaikan adalah niat yang jujur agar engkau mendapat pahala jihad sedangkan engkau berada di rumahmu selama engkau tidak mengetahui jalan menuju para mujahidin.

Akan tetapi sekali-kali engkau tidak akan mendapatkan pahala kecuali dengan adanya kejujuran darimu, maka seandainya tiba-tiba datang pesawat khusus untuk membawamu sekarang ini ke negeri jihad apakah engkau langsung keluar untuk melaksanakan kewajiban yang telah hilang ini atau engkau beralasan sebagaimana orang – orang banyak beralasan bahwa ibu tidak ridho? Pendidikan itu penting dan apa yang telah engkau lakukan termasuk bagian dari i`dad juga? dll.

1. Diantara tanda kejujuran adalah mengeluarkan/membuat paspor jika sebelumnya tidak ada dan dia jadikan selalu siap disaat apapun.

2. Diantara tanda kejujuran adalah mempersiapkan diri jiwa dan raga dan berdoa dengan sungguh-sungguh agar Allah memudahkan bagimu dan menunaikan amanat kepada pemiliknya berupa harta dan pinjaman-pinjaman sebagaimana jika engkau akan meninggalkannya beberapa hari lagi atau mewakilkan kepada seseorang amanat- amanat itu hingga ia menunaikannya untukmu jika terjadi keterpaksaan bagimu.

3. Keadaan ini serupa dengan keadaan kebanyakan para pemuda yang baru menempuh jalan istiqomah ketika bapak mereka melarang mereka shalat fajar karena takut atas mereka, bahkan terkadang mereka menutup pintu agar anak itu tidak keluar, maka minimal bagi orang yang jujur niatnya hendaklah ia berdiri pada waktu shalat dihadapan Robbnya untuk melaksanakan shalat dan lisannya berkata:

“يا رب! لولا الباب لخرجت؛ فأنا جاهز”

“Wahai Robb kalau bukan karena pintu ini aku pasti keluar karena aku telah siap”

4. Hadis-hadis yang menerangkan pahala hanya sekedar niat dalam keadaan tidak mampu melakukannya sangat banyak sekali, lihat Riyadus Sholihin karangan An-Nawawi dan yang lainnya.

Berikut ini kami jelaskan padamu tadrib imani (latihan spiritual) yang wajib engkau sempurnakan agar tetap teguh diatas jalan ini, yaitu :

 

I. Menjaga shalat 5 waktu dengan selalu berjamaah.

Saudaraku muslim, banyak saudara-saudaramu di Iraq telah dilarang, terhalang dari nikmatnya shalat di masjid, karena diisolasi dan ditutup oleh orang-orang rofidhoh –semoga  Allah menghinakan mereka– oleh karena itu kami sangat iri dengan kalian, karena kalian mampu pergi ke masjid tanpa ada rasa takut atau khawatir.

Dan ketahuilah bahwa jika engkau termasuk dari orang yang shalat fajar dan Isya di masjid maka engkau telah menempuh jalan yang benar yang menghantarkan kepada jihad atas izin Allah.

 

II. Minimal engkau melaksanakan shalat 2 rokaat pada pertengahan malam setiap hari.

Ketahuilah bahwa jika engkau telah mampu shalat pada pertengahan malam, artinya engkau mampu untuk berjaga-jaga diwilayah perbatasan jihad. Dan jika engkau tidak mampu berdiri pada malam hari untuk shalat sedangkan engkau di rumahmu dan sarana prasarana ada pada dirimu, lalu bagaimana engkau akan shalat malam ketika jihad? Bagaimana engkau akan mampu menanggung beratnya malam pada musim dingin atau tiupan jahanam di musim panas?

Maka mintalah pertolongan kepada Allah untuk shalat malam. Dan ketahuilah bahwa engkau ketika shalat dua rokaat dikamar ber-ac dalam keadaan tenang, aman dan kenyang, maka sesungguhnya pada waktu itu di sana; saudara-saudaramu para mujahidin di Iraq terdapat orang-orang yang berdiri dengan senjatanya mengamati musuh, ia tidak merasa aman dari arah mana mereka (musuh) akan datang. Berdiri di belakang dinding dan ia tidak tahu apakah dinding itu dapat melindunginya dari musuh atau dari dinginnya udara yang sangat menyengat di musim dingin.

 

III. Hendaknya minimal engkau berpuasa sehari dalam sepekan.

Karena sesungguhnya hal itu membiasakan dirimu dalam menanggung derita lapar yang terkadang menimpamu di medan jihad. Dan ketahuilah bahwa para sahabat Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, salah seorang dari mereka berperang sedangkan ia meletakkan batu di perutnya karena sakit kelaparan.

Maka jika engkau mendapatkan beberapa penderitaan lapar ketika puasa namun engkau dalam keadaan tenang, karena engkau mendapatkan apa yang akan engkau makan ketika berbuka. Ketika engkau berbuka dengan segala apa yang engkau inginkan bagi dirimu dan menikmatinya di depan mata, sesungguhnya disana saudara-saudaramu di Iraq mereka menyambung puasa siangnya dengan puasa malam dan tidak berbuka. Namun juga tidak mengeluh karena mereka tidak mendapatkan makanan berbuka.

Seandainya mereka mendapatkannya pun tidak mampu menutupi sakitnya karena lapar kecuali hanya sedikit. Namun demikian mereka mengharapkan pahala di sisi Robb semesta alam. Maka lihatlah! Dimana posisi kalian dan mereka?

 

IV. Hendaknya engkau mengkhatamkan Al-Quran minimal sekali dalam 1 bulan.

Jika engkau jadikan sebagai wirid bagi dirimu dengan setiap hari engkau membaca 1 juz Al-Quran, maka engkau akan mengkhatamkannya setiap bulan. Jika engkau telah mengkhatamkan Al-Quran pada awal bulan, ketahuilah bahwa engkau memiliki saudara di Iraq yang salah seorang dari mereka mengkhatamkan semua Al-Quran sedangkan ia berdiri di barisan terdepan menakut-nakuti musuh dan musuh menakut-nakutinya. Ia tidak dalam kondisi rasa aman dan tenang ketika membaca Al-Quran.

Maka lihatlah! Dimana posisimu dibandingkan orang ini? pahala apa bagimu dan pahala yang mana bagi mereka?

 

V. Bersungguh-sungguhlah engkau agar menjadi orang yang mengenal secara baik sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Hafalkan beberapa hadits beserta Al-Quran. Karena ia akan menjadi bekalmu yang dapat mententramkan jiwamu. Ketahuilah bahwa di waktu engkau membaca beberapa hadits jihad dan pahala syahid, sesungguhnya saudaramu di Iraq sedang beramal dalam mempraktekkan hadits-hadits itu secara nyata di lapangan yang dengan kedahsyatannya dapat menghancurkan singgasana orang-orang zalim.

Dan sangat beda antara orang yang hanya membaca atau menghafal hadits dengan orang yang mengamalkan hadits tersebut secara perbuatan dan mempraktekkannya.

 

VI. Engkau wajib menelaah beberapa buku sejarah dan beberapa biografi para sahabat dan tabi`in.

Hal itu agar mereka menjadi panutan bagimu, yang menunjukimu dari pekatnya malam dalam gelapnya peristiwa-peristiwa dan kondisi waqi` (realita).

Ketahuliah di waktu air mata mengalir di pipimu dan engkau mengikuti sikap-sikap mereka serta kagum dengan kepahlawanan mereka, maka disana, saudara-saudaramu di Iraq sedang bekerja (beramal) untuk menambah lembaran -lembaran sejarah kepahlawanan. Sejarah orang-orang sholih dan pembesar-pembesar sejarah yang akan engkau baca dan dibaca oleh anak-anak kalian. Maka berusahalah agar engkau menjadi orang yang membuat sejarah bukan yang membaca sejarah!

 

VII. Berakhlaklah dengan semua akhlak yang baik dan menjauhi segala akhlak yang buruk dan jelek.

Akhlak terpuji pertama adalah engkau menyebarkan salam, perbuatlah setiap hari untuk memberi salam kepada orang yang engkau kenal. Jika engkau mampu berbuat hal itu maka engkau akan mendapatkan kesenangan jiwa dan akhlak yang baik. Karena akhlak baik itu adalah disaat engkau bergaul kepada manusia dengannya, bukan di saat engkau bergaul dengan dirimu sendiri.

Sehingga, jika engkau mampu memberi salam kepada orang yang engkau kenal dan tidak engkau kenal, maka engkau telah bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik.

Ya, mungkin perkara ini sangat sulit, namun akan mudah bagi yang diberi kemudahan oleh Allah dan ketahuilah bahwa engkau sangat membutuhkan akhlak ini dalam jihad karena ia dapat menghapus kebencian dalam dada.

Hal itu juga membuat engkau mampu memaafkan saudaramu jika mereka berbuat salah pada dirimu. Maka janganlah engkau meremehkan akhlak ini walaupun sudah terbayang padamu urusannya hanya remeh saja.

Ketahuilah bahwa wasiat Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang pertama dan utama kepada para sahabatnya di Madinah adalah menyebarkan salam (untuk membangun masyarakat yang saling mencintai), menyambung tali silaturahhim (untuk membangun keluarga yang kokoh) dan shalat malam sedang manusia tidur (untuk membangun manusia yang lurus).

Disini kita melihat adanya tahapan dari mulai masyarakat dan penduduk perkotaan menuju kepada keluarga dan famili, kemudian kepada diri sendiri dan individu.

أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلامٍ

“wahai sekalian manusia sebarkanlah salam, berilah makan orang yang membutuhkan, dan shalat malamlah ketika manusia pada tertidur. Maka kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya juz 9 halaman 25 hadits nomor 2409).

 

VIII. Jadikanlah harta itu berada di tanganmu bukan engkau jadikan ia berada di hatimu.

Berusahalah mencari lebih banyak lagi harta halal, karena jihad –hingga yang paling sulit darinya– sangat membutuhkan orang-orang kaya seperti Ustman bin affan, Abdurrahman bin Auf dan para sahabat lainnya yang kaya.

Dengan syarat engkau niatkan mengumpulkan harta bukan untuk dirimu sendiri dan kemegahan, akan tetapi hanya untuk jihad dan membantu para mujahidin. Maka setelah engkau mengeluarkan apa yang engkau keluarkan dari hartamu untuk keluargamu maka tabunglah sisa hartanya, hingga jika telah datang kesempatan bagimu untuk menyampaikannya kepada mujahidin maka engkau kerjakan dengan segera dan secepat mungkin.

Pastikan bahwa hartamu halal dan jauhilah harta-harta syubhat. Dan ketahuilah bahwa Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik dan barang siapa yang bergelut di sekitar syubhat maka ia akan terjerumus di dalamnya.

Bantulah para mujahidin walau hanya dengan 1 dirham, sungguh 1 dirham telah mendahului 100 ribu dirham sebagaimana disebutkan dalam hadits. Mulailah dengan jujur dari sekarang untuk menabung dan meminimalisir pengeluaran yang tidak bermanfaat dan yang bukan keharusan, hingga jika ia mendapati kemudahan jalan untuk menyumbang, ia akan segera menyumbangkannya.

Bisa jadi orang tersebut mendapat kemudahan untuk dapat menempuh jalan namun tidak memiliki harta untuk berangkat keluar. Oleh karena itu ia harus mempersiapkan diri untuk keadaan seperti itu dengan menabung apa yang ia mampu dan Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.

 

IX. Kecintaanmu kepada jihad tidak menghalangimu dari menikah.

Ketahuilah bahwa mayoritas para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang-orang yang sudah menikah. Namun menikah itu tidak menghalangi seorangpun dari mereka dari berjihad dan juga jihad tidak menghalangi satu pun dari mereka untuk menikah.

Dan berusahalah menikahi orang yang menjaga kehormatan dirimu dan membantu perkara agamamu. Jadikanlah niatmu dalam menikah untuk memperbanyak generasi kaum muslimin, karena kita hari ini sangat membutuhkan banyaknya jumlah (kwantitas) hingga salah satu dari kita bersama para anak-anaknya menjadi satu kelompok perang mujahidin.

Jika niatmu agar Allah memberi rezeki keturunan para mujahidin, maka alangkah indahnya (bagusnya) pernikahan itu dan alangkah bagusnya niat itu.

 

X. Tidak melihat kepada yang diharamkan Allah.

Pada saat ini, dimana gambar-gambar buruk dan tak senonoh telah tersebar hingga hampir-hampir tidak nampak selainnya. Kita melihat bahwa ujian ini sangat sulit dan bencana ini sangat besar.

Akan tetapi pada waktu yang sama kita tahu bahwa pahala akan lebih besar dan surga lebih mahal, serta ridha Allah Robb semesta alam lebih besar dan agung. Oleh karena itu barang siapa yang berharap untuk bertemu dengan Rabbnya, jihad di jalan-Nya dan membela saudara-saudaranya maka hendaklah menahan dirinya dari melihat apa yang Allah haramkan.

Cara mewujudkan hal itu lakukanlah berikut ini :

A. Mematikan (mengeyampingkan) seluruh stasiun TV yang tidak baik. Jika kamu mampu menutup semuanya (sepenuhnya) maka itu lebih baik. Jika engkau beralasan bahwa engkau akan cukup hanya melihat berita dan menyaksikan program-program Islam, maka kita tahu bahwa hal itu hanyalah tipu daya setan.

Bala tentaranya tidak akan pernah membiarkan kamu hingga mereka dapat menjerumuskan kamu ke dalam apa yang Allah haramkan.

Maka hati-hatilah dari mereka yang hendak mengujimu dan tutuplah pintu yang para bala tentaranya datang kepadamu dari arah tersebut. Jika kamu tidak mampu dengan hal itu, jika engkau tidak memilikinya misalnya, maka jauhilah melihat kepadanya. Sedangkan berita-berita dan program-program Islam, maka kami nasehatkan kepadamu untuk menelaah (melihat) dari majalah-majalah yang terpercaya dan buku-buku yang bermanfaat.

Ketahuilah di waktu engkau berusaha berjihad melawan hawa nafsumu agar tidak melihat apa yang Allah haramkan, sesungguhnya saudara-saudaramu para mujahidin di Iraq sedang berjihad hingga kehormatan mereka tidak terkoyak dan kemuliaan mereka tidak dihinakan.

B. Jauhilah jangan sampai engkau biarkan setan menipumu untuk masuk ke dalam tempat-tempat yang serba bebas (permisifme) di internet. Berusahalah untuk melawan hawa nafsumu dan melarangnya dari hal itu.

C. Jadikan seluruh perhatianmu dalam rangka meninggikan kalimat Allah dan berkhdimat bagi islam serta membela saudara-saudaramu. Berusahalah engkau jadikan hal tersebut dalam setiap tujuan dan urusanmu, baik saat engkau tidur dan duduk agar selalu terpatri bersamamu.

Jika engkau mampu berbuat hal itu, maka ketahuilah bahwa tidak ada tempat lagi untuk urusan-urusan dan perkara-perkara keji yang terlintas dalam pikiranmu setelah itu.

Saudaraku muslim, inilah langkah-langkah pembelajaran demi mencegah kejahatan setan dan hawa nafsu yang selalu menyuruh pada kejahatan, jika engkau mampu mengatasinya, maka setelah itu engkau akan lebih mampu lagi menghadapinya atas izin Allah.

Dan jika engkau tidak mampu, maka kami tidak mengira (menyangka) kamu selain hanya sekedar mengaku-ngaku saja, lemah tekadnya dan loyo motivasinya. Engkau berkata apa yang tidak engkau perbuat dan berfikir apa yang tidak mampu engkau kerjakan.

Ketahuilah bahwa inilah tingkat terendah amalan yang dapat kamu kerjakan. Jika engkau dapat menambah amalmu maka engkau termasuk orang-orang yang memiliki tekad yang tinggi dan berjiwa besar. Bersambung…[voa-islam.com]